Kamis, 01 Agustus 2019



Situasi saat itu ada berbagai jenis makanan dan minuman disodorkan oleh para pengunjung untuk dicoba. Saya sampai harus memilah makanan dan minuman yang harus dicicipi. Tapi ada misi penting yang harus dilaksanakan, yakni mencari produk daging berkualitas. Pastinya akan bermanfaat baik jasmani maupun rohani ? Kok, bisa ? Yaiyalah, kalau bisa mendapatkan daging berkualitas bagus dengan harga yang murah pasti hati senang.

Sebelumnya, saya sedang datang ke pameran Food & Hotel Indonesia yang diadakan pada Rabu sampai Sabtu, tanggal 25-27 Juli 2019, bertempat di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta. Berhubung saya memang suka mengkonsumsi daging, bisa paling saya Lady Carnivoralebih gaya ‘kan ? Jadi kalau ke pameran makanan incaran utamanya ya produk-produk ini. Tapi untuk mengimbanginya untuk tetap mengkonsumsi sayur-mayur karena masih ingat Tuhan menciptakan saya sebagai manusia. Inga-inga, jangan sampai kena penyakit kolesterol dan teman-temannya, barulah kembali ke jalan yang benar.

Saya melihat ada acara memasak di salah satu stand pameran. Dari kejauhan tampak kerumunan manusia, ternyata didominasi para wanita. Wah, sebagai perempuan tidak mau kalah ikut menyeruak masuk. Astaga, pantaslah ramai. Ada Chef Arnold Poernomo yang adalah salah satu juri di acara terkenal dalam layar terkembang maksudnya TV. Setelah diperhatikan kok dia masak telur ya ? Padahal ini di booth penyedia daging, KIBIF yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Eh, setelah sang MC menyebutkan menunya, saya salah kaprah. Di balik telur fluffy, terdapat potongan daging malu-malu tapi mau pake bingits.

Akibat saya kurang sigap untuk mengambil masakan yang memang terbatas, jadi tidak dapat masakannya. Harus banyak berlatih untuk gerak cepat di antara perempuan-perempuan terlatih meraih makanan secara cepat. Lah wong, saya makannya saja luama benar. Sampai sering dikomplain pasangan dan teman. Etapi, ada kabar gembira, ternyata menu yang dimasak adalah salah satu menu di restoran yang baru dia buka bersama Kaesang dan Gibran, yaitu Mangkok Ku.

Jadi daging di sini adalah yang dipakai untuk menu-menu berlauk daging. Salah satunya, yaitu lidah bertaburan dabu-dabu. Duh, ini salah satu daging dan sambal favorit saya. Wow, saya jadi makin penasaran. Sebagai seorang chef atau bahasa Indonesianya koki, tentu tidak akan sembarangan merekomendasikan daging. Tapi kalau untuk brand yang satu itu, saya belum pernah dikecewakan akan kualitasnya.

Baiklah, saya tidak mendapatkan masakannya. Tapi saya mendapatkan kesempatan vlog bersama Chef Arnold. Setelah mendapat rekomendasi kenalan di perusahaan daging ini, barulah dari Direktur Marketing KIBIF, Grace Adoe mempersilahkan. Di vlog saya tampak Grace di belakang sedang sibuk dan sempat melirik ke kamera aha, kamu tercyduk.

Sempat-tak sempat harap dibalas, sempat-tak sempat harap di-subscribe. Mohon tonton vlognya di kanal saya, syukur-syukur disedekahi like dan komentar. Apalagi kalau mau melihat tips mengenai daging dan wawancara Chef Arnold.

Baiklah, kembali ke daging. Ada fakta baru mengenai KIBIF tapi belum pakai mencengangkan. Mereka baru saya mengeluarkan produk-produk baru di ajang internasional ini. Salah satunya yang saya coba dan yang pastinya ada dalam vlog. Dimasak dalam tempo yang singkattidak sampai 1 menit. Saya saksi hidupnya. Hanya bermodalkan garam dan lada. Kalau sempat pakai saos jamur, jangan pakai saos sambal, saran salah satu chef teman saya.

Bertemu lauk yang enak dengan kondisi daging juicy dengan kelezatan menyebar secara masiv di mulut, rasanya mau marahkenapa tidak ada kentang atau nasi yang hadir menemani ? Orang Indonesia gethoo, tak ada nasi namanya belum makan. Itu namanya baru ngemil, “Camu-camu itu dang”, kata orang Manado. Mau comot lagi, daging sudah melayang diambil para laki-laki pengincar daging berkualitas dalam hitungan detik.

Foto bersama (dok. pribadi)
Nama produk yang saya coba adalah Saikoro Beef Steak.  Menurut salah satu staf KIBIF memang sering diincar oleh para chef. Dengan bentuknya sengaja dibuat kotak-kotak untuk memudahkan dalam pengolahannya. Harganya saya cek tidak mahal, dibandingkan kualitas dan kelezatan yang saya dapatkan. Kabar buruk, saya lupa membeli. Karena malas menenteng daging, saya pikir nanti kembali lagi. Pada hari terakhir saya tanyakan si daging itu ternyata sudah habis. Waduh, terpaksa harus menunggu dijual secara bebas. Maklum, produknya benar-benar gress langsung dari pabriknya. Jadi tidak sabar menunggu. (***)

Lisa Moningka . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates