Jumat, 06 September 2019

dr Erna Mulati MSc, dr Windra Wawaoruntu, Bayu Oktara, dr. Madeline Ramdhani Jasin, Sp. A, Seline Patta Sumbung (dok. Rahab Ganendra) 


Fakta mencengangkan ini baru saya ketahui, ketika menghadiri suatu acara yang dipersembahkan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) Partner of Save Children, didukung oleh KBR dan Power FM 89,2. Untuk meluncurkan kampanye nasional mengenai kesehatan, yaitu "Stop Pneumonia" pada anak, hari Minggu (18/8/2019) di lapangan Fatahillah Kota Tua, Jakarta.

Sekaligus merayakan 100 tahun Save The Children. Kampanye yang rencananya akan dilaksanakan dalam kurun waktu 3 tahun, bertajuk Merdeka dari Pneumonia pada Anak.

Dibuka dengan Tarian Cokek secara massal di lapangan, nan memesona dengan penari berpakaian daerah dimodifikasi dengan aksesoris modern. Contohnya berkebaya dengan sepatu boot. Acara disiarkan secara langsung melalui Radio Power FM serta live streaming di Fan Page Kantor Berita Radio KBR dan You Tube kanal Stop Pneumonia Campaign Indonesia.
Tari Cokek (dok. penulis)
"Pneumonia adalah penyebab kematian anak nomor satu di dunia yang membunuh satu juta anak tiap tahunnya."
Hal ini ditegaskan oleh dr. Windra Waworuntu, M. Kes. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular P2PM Kementerian Kesehatan R. dengan mengatakan, "Pneumonia penyebab kematian anak nomor satu di dunia. Kalau di Indonesia, penyebab kematian nomor 2 setelah diare."

Menurut John Hopkins University dan Save The Children, setiap menit, dua anak meninggal dunia karena pneumonia. Jika tidak dicegah, pneumonia akan membunuh 11 juta anak di tahun 2030. Oleh karena itu, sangat penting sosialisasi pencegahan pneumonia diadakan di Indonesia.

Pertama kali saya mendengar penyakit ini, hal pertama yang terlintas adalah Stan Lee, penulis komik dan pencipta Marvel Comics. Dia meninggal di usia 95 tahun karena pneumonia. Hal ini makin menambah daftar korban keganasan penyakit, penyebab 15 % dari semua angka kematian balita diambil dari data World Health Organization (WHO).

Apa itu pneumonia? Pneumonia merupakan kondisi jaringan paru-paru terendam cairan atau mengalami peradangan yang disebabkan oleh bakteri, virus ataupun jamur.  Rata-rata orang awam menganggap pneumonia adalah sama dengan paru-paru basah atau juga TBC. Apakah Anda berpikir seperti itu? Kalau iya, mari kita tos. 

Ya, saya juga mengira istilah penyakit ini adalah hal yang sama. Padahal paru-paru basah itu tidak ada terminologinya dalam kedokteran. Tapi bila dijelaskan secara awam, paru-paru basah terjadi karena terendam cairan yang bisa disebabkan oleh pneumonia atau TBC. Bisa ditarik kesimpulan,  bahwa paru-paru basah belum tentu pneunomia, dan TBC bukanlah pneumonia.

Saya mengetahui hal ini ketika bertanya kepada teman yang dahulu berprofesi sebagai perawat. Dia memiliki kenalan yang menderita penyakit paru-paru basah. Ujarnya, ada teman kami yang dahulu pernah menderita penyakit ini ketika duduk di bangku SMP. Barulah saya bertanya, dia pneumonianya sembuh sejak kapan, langsung dijawab bahwa pneumonia beda. Owalah, saya salah alamat. Untung belum sempat bertanya-tanya kepada sang teman.

Gejala awal pneumonia yaitu penderita mengalami batuk berdahak, flu, demam tinggi disertai sesak nafas. Bagaimana cara melihat sesak pada anak? Yaitu dengan menghitung ritme nafas dengan hitungan waktu per menit. Terlihat dalam kurun waktu ini terdapat cekungan di dinding dada penderita ketika napasnya tersengal-sengal. Tetapi hal ini tidak berlaku jika anak berbadan gemuk. Jika melihat gejala ini, segeralah membawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

dok. penulis lisa moningka
Cara dokter mendiagnosis pneumonia dilansir dari hellosehat.com, antara lain:
Rontgen dada. Dengan menggunakan Sinar X, bagian paru-paru yang terkena penyakit ini akan terlihat
Tes Darah. Tindakan ini berguna untuk mengetahui tipe virus atau bakteri penyebab penyakit
Tes Dahak. Virus atau bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan ini akan terlihat pada dahak.
Periksa Kadar Oksigen Darah. Berguna untuk mengetahui seberapa banyak oksigen yang masuk dalam darah. Karena penyakit ini bisa menyebabkan oksigen tidak bisa masuk ke dalam darah.

Dalam acara kampanye, kami diajarkan berbagai hal mengenai pneumonia, dengan para nara sumber kompeten, tapi dari kalangan non medis juga turut serta, berikut daftar nama mereka:
  • Selina Patta Sumbung – Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner of Save The Children
  • dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A – Ikatan Dokter Anak Indonesia
  • dr. Erna Mulati MSc. CMFM – Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI
  • dr. Windra Waworuntu – M. Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular P2PM Kementerian Kesehatan RI
  • Bayu Oktara – Seniman dan seorang ayah
Oleh mereka, para peserta diajarkan tagline dari Save the Children yaitu "Stop Pneumonia" yang mempunyai akronim berikut:
S : aSi eksklusif 6 bulan, tambahkan dengan MPASI hingga 2 tahun
T : Tuntaskan imunisasi
O : Obati anak jika sakit ke faskes terdekat
P : Pastikan kecukupan gizi anak

Rangkaian acara kampanye selanjutnya, turut mengundang narasumber dari daerah, yaitu Bandung dan Sumba Barat. Pertama-tama dr. Farah Diba, SpA, sekdis kesehatan Kab. Bandung. dr. Farah memaparkan pneumonia selalu diasumsikan sebagai TBC. Pemerintah sering melakukan upaya pencegahan pneumonia, salah satunya dari posyandu.

Kabupaten Bandung memiliki 4000 lebih posyandu, yang adalah tempat berkumpul balita dan ibu. Di sini mereka mendapatkan informasi mengenai kesehatan. Pemerintah berkampanye mengenai imunisasi dasar dan pemberian ASI eksklusif. Bahkan di kabupaten Bandung terdapat desa ASI, tambah dr. Farah. ASI eksklusif adalah cara membuat pertahanan pertama anak terhadap penyakit Pneumonia baru dibentengi dengan imunisasi.

Selanjutnya Silvester Nusa dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) menceritakan kondisi Sumba Barat. NTT adalah daerah tertinggi yang terkena pneunomia. Pada Tahun 2018 berdasarkan hasil temuan di semua puskesmas paruh Desember, bayi  di bawah usia 1 tahun terdapat 91 kasus. Sedangkan korban dengan rentang usia 1 sampai dengan 5 tahun di angka 107 kasus.

Salah satu penyebab pneumonia di daerah disebabkan budaya masyarakat, contohnya konstruksi rumah. Asap dapur sulit keluar dari rumah karena bentuk bangunan. Ditambah sulitnya akses keluarga terhadap air bersih dan tidak memiliki sanitasi yang baik.

Pemahaman mereka juga sangat rendah mengenai masalah kesehatan, sehingga masih dibutuhkan sosialisasi lebih banyak secara gencar. Salah satunya, dinas kesehatan pada bulan Maret yang lalu bekerja sama dengan para pemuka agama dan aliran kepercayaan untuk edukasi. Selanjutnya mereka menyampaikan kepada masyarakat mengenai pentingnya cara hidup sehat.

Peran seorang ayah sebagai kepala keluarga, juga sangatlah penting untuk mencegah pneumonia. Oleh karena itu mereka mengundang Bayu Oktara notabene adalah seorang ayah yang "baru". Diberikan olehnya berbagai tips untuk menyenangkan istri. Salah satunya dengan memberikan pijatan-pijatan atau pun perhatian yang membuat istri bahagia. Hal ini akan membantu melancarkan ASI untuk anak-anak mereka. 

Bayu selalu berusaha untuk menemani istri ke rumah sakit ketika anak sakit. Suami juga berperan untuk mengingatkan istri, agar anak mendapatkan imunisasi lengkap. Sampai di tahap memastikan agar sang buah hati mendapatkan gizi lengkap, sehingga tumbuh kembang sesuai dengan tahapan.

Fakta juga menunjukkan ayah bisa menjadi penyebab anak menjadi penderita pneumonia ataupun penyakit lainnya, jika dia merokok. Saudara saya langsung berhenti merokok setelah mempunyai anak. Dia baru mengetahui bahwa, walaupun dia tidak merokok di depan anak. Akan tetapi asap yang melekat pada pakaian atau pada badan bisa menyebabkan sang anak sakit. Untung dokter langsung memberikan edukasi kepada calon ayah.
Data mengenai pneumonia (dok. penulis lisa moningka)

Polusi udara makin mengkhawatirkan, khususnya di kota Jakarta, bisa menyebabkan anak terkena pneumonia. Data Unicef menunjukkan setengah dari kematian anak akibat pneumonia berkaitan dengan polusi udara. Ya, bila orang tua tidak segera menyadari tanda-tanda sang anak terkena pneumonia bisa berakibat fatal, yaitu KEMATIAN.

Saya juga baru mengetahui kalau di Jakarta Utara sudah jatuh korban hingga meninggal dengan kondisi lingkungan asap rokok. Walau bukan di lingkungan rumah melainkan di tempat di mana anak tersebut dititipkan ketika orang tua bekerja. Memang tidak sepenuhnya disalahkan asap rokok, karena tidak dijelaskan apakah orang tua telah memberikan ASI eksklusif selama minimal 6 bulan. Sudahkah mengimunisasi anak secara lengkap? Bagaimana asupan gizi yang diberikan kepada anak?

Intinya menyedihkan ketika harus kehilangan nyawa sang buah hati. Hidup di kota yang fasilitas kesehatannya jauh lebih lengkap, dibandingkan di daerah-daerah yang terpencil. Bukanlah jaminan akan terhindar dari penyakit yang menyebabkan 15 % kematian dari semua angka kematian balita, berdasarkan data World Health Organization (WHO).

Jadi saya merasa penting untuk membagikan kampanye STOP Pneumonia ini seluas-luasnya. Bagaimana menurut Anda, maukah ikut peduli akan kesehatan para calon penerus bangsa? (***)

Untuk detail kampanye STOP Pneumonia bisa cek di laman http://stoppneumonia.id/



StopPneumonia #WhateverItTakes #BerpihakPadaAnak




26 komentar

Mengingat ngerinya pneumonia, sgt mendesak utk trs dikampanyekan ke masyarakat luas, menyangkut pengenalan dan penanganannya. Artikel bermanfaat

REPLY

Memang tidak boleh anggap remeh penyakit ini.Terima kasih mau mampir.

REPLY

Terima kasih informasinya. Dinas kesehatan bisa kerja sama dengan pihak sekolah untuk sosialisasi dan edukasi kepada wali murid. Semoga para orangtua semakin sadar atas pentingnya gizi bagi anak.

REPLY

Ide bagus Mas Dwi. Terima kasih

REPLY

Polusi udara dan kesehatan dalam rumah sangat memengaruhi tumbuh kembang anak, saya sudah berkomitmen dengan suami jika nanti kita punya anak, Suami harus berhenti merokok, dan saat ini suami sedang proses berhenti merokok.

REPLY

Alhamdulillah anak-anak saya super lengkap imunisasinya, apakah itu imunisasi wajib dan juga imunisasi anjuran. Bikin dompet kempes? Yups, saya dan suami sudah tahu dari awal kalo imunisasi anjuran itu mahal. Tapi kami berdua melihat imunisasi itu adalah investasi kesehatan untuk anak. Anak gak diimun, uang bisa disimpan sih, tapi kalo sekali dua bulan atau sekali tiga bulan masuk rumah sakit karena sakit? Ya sami rawon kaaan. Kekeke. Pneumonia ini contohnya, sejak dini ditangkal dengan vaksin DPT-HB-Hib. Lengkapppp deh itu. Meski tidak ada jaminan imunisasi ini 100 persen memproteksi, tapi 80 persennya kita bisa bernapas lega sebagai orang tua.

REPLY

Anakku kena TB paru mba Lisa. Sedih pake banget. Meski bukan pneumonia, tapi ini aja udah membuat aku kesal sama orang dewasa yang merokok di dekat anak.
Karena rumah kami bebas asap, wajar rasanya kalo aku kesel sekali kok bisa ya anakku kena TB paru..

Makanya para perokok itu harus merokok di ruang khusus yang mereka sendiri menghisap asapnya. Rasanya zolim sekali saat mereka asik merokok orang lain yang kena imbasnya.

REPLY

Menjadi ancaman nomor 1 di dunia. Ngeri sekali. Semoga para bapak yang masih merokok berhenti sekarang juga. Paling tidak sayangin anak-anak kalian

REPLY

Perokok memang menyebalkan. Kalo mereka sendiri yg kena akibatnya sih gpp, lah ini asapnya kemana-mana. Saya sendiri kena bronkitis dan asma Krn perokok. Dari asap itu bisa muncul penyakit lainnya termasuk pneumonia.

REPLY

Iya, penyakit pneumonia memang sangat bahaya tapi disepelekan oleh ibu dan keluarga secara umum. Padahal tak kurang kurang tim kesehatan membuat aksi agar orang orang waspada pneumonia.

REPLY

Polusi asap dan kondisi rumah pengaruh banget ya untuk kesehatan paru anak. Setahuku tidur di bawah pun tak sehat. Oleh sebab itu jangan langsung kasur ke lantai, tetapi di alas papan terlebih dahulu. Tikar pun kurang aman. Rumah tradisional justru bagus, karena kan lantainya papan atau bambu, jadi sirkulasi udara lancar. Sayang masih banyak ortu yg merokok di depan anak...Sami mawon deh...

REPLY

Ternyata bahaya juga ya penumonia ini, jadi pembunuh tingkat tinggi.
Memang harus di waspadai dan tak bisa dianggap remeh

REPLY

Nah ada masalah muncul kak, baru saja saya alami, secara klinis darah normal tapi ada pembangkakan paru di ketahui dari hasil rontgen... dokter rontgen menyatakan TBc dan Pneumonia..dokter ruangan menyatakan tidak apa2 karena tidak ada gejala klinis pendukungnya (syukurlah)...

REPLY

Apa tindakan kita dalam melakukan pencegahan yang sangat mudah dan simpel. setidaknya da upaya sederhana yang kita lakukan untuk mencegah terjadinya penyakit pneumonia tersebut.

REPLY

Indonesia sendiri sudah darurat udara menurut saya pribadi. Karena banyaknya kendaraan bermotor yang setiap tahun terus meningkat, ini yang harus diperhatikan orang tua, untuk bisa lebih menjaga kesehatan anak, dan memperhatikan kebersihan sekitar.

REPLY

Kalo liat fakta yang sudah ada maka kampanye mengenai penyakit ini harus lebih gencar lagi, terutama di perkotaan dimana polusi sudah menjadi hal wajar.

REPLY

Sering banget kejadian gitu. Bilangnya gak merokok di depan anak, tapi anaknya terserang gangguan pernafasan. Aslinya emang asap rokok menempel di badan ayah dan dihirup oleh si anak. Yang menempel kan malah residunyabya, jadi tetep bahaya juga. Hmmm

REPLY

Ini dia bahaya asap rokok mameeeeen... Suka ngeri kalau baca berita ada anak yang meninggal karna Pneunomia ini. Mudah-mudahan masyarakat tersadarkan dgn bahayanya asap rokok..

REPLY

Saya sering dengar istilah pneumonia tapi baru benar-benar tahu apa itu pneumonia setelah membaca ini. Informasi seperti ini jarang sekali didapatkan masyarakat menengah ke bawah. Mudah-mudahan pemerintah bisa menggencarkan penyuluhan, terutama di kampung-kampung.

REPLY

Jangan coba2 anggap remeh deh penyakit, bahaya. Informasi yg sangat informatif spt ini mestinya dishare lebih banyak lagi ke saudara2, kerabat, sahabat, warga, agar dapat selalu waspada

REPLY

sosialisasi ini harus sampai ke ibu-ibu POM nih, biar makin banyak nyawa terselamatkan

REPLY

Setuju banget terkait bahaya di asap rokok. Selain sebel karena tahu fakta asap rokok masih nempel di baju, aku paling juengkelllll sama guru2 di sekolahan yang merokok.

REPLY

Menjaga kesehatan tetap yang utama. Dampak rokok tidak bisa di anggap remeh, perlu ada pemahaman pada para ayah yang masih merokok dan mempunyai buah hati.

REPLY

Kemarin saya sempet membagikan artikel tentang seorang bayi yang meninggal karena asap rokok. Egois banget ya perokok. Bilangnya "ah itu kan umum, banyak ko orang ngerokok"

Iya itu umum, tapi umum untuk hal negatif dan merugikan. Apakah akan diterus teruskan ?

REPLY

Lisa Moningka . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates