Selasa, 23 Juli 2019

Penampakan 3 mobil koleksi di museum Juang (dok. @lisamoningka)


Tahukah kamu jika sampai saat ini masih ada mobil bodong yang berkeliaran di Jakarta walau hilir mudik depan para polisi tidak diangkut alias disita. Wow, mengapa begini mengapa begitu? Eits, awas harap hilangkan buruk sangkamu itu. Tapi ingat, hal ini tidak berlaku jika kamu mencoba-coba berkelakuan seperti ini, dijamin kendaraan tanpa surat kamu langsung digendong tanpa kasih sayang oleh derek Dishub.

Baiklah, langsung saya ceritakan si kendaraan yang mendapatkan perlakuan spesial seperti ini. Mobil yang tiap hari diparkir di Gedung Joang 45. Pada setiap tanggal 16 Agustus dibawa konvoi bahkan harus dikawal. Disebabkan mobil ini berpelat REP-1, menandakan pernah dimiliki oleh orang nomor satu di Indonesia. Mengenai kondisi mesinnya, masih bagus karena memang diservis secara berkala. Kalau coba berkunjung di Gedung Joang 45 ada di bagian belakang. Bagi yang bermata jeli pada saat melihat di bagian samping mobil ada AKI yang diletakkan. Kata pemandu lokal yang menemani saya hal ini adalah bagian dari perawatan.

Dalam museum ini terdapat 3 koleksi mobil. Pertama, mobil dinas pertama milik Bung Karno berpelat REP-1. Kedua, berpelat REP-2 milik Moh. Hatta dan ketiga, mobil Bung Karno yang terkena granat saat peristiwa Cikini pada tahun 1957.
Ada cerita unik di balik ketiga mobil ini yang akan saya ceritakan sebagai berikut.

Mobil Berpelat REP-1

Berkelir hitam dan terlihat sangar sekaligus seksi menurut saya karena lekukan bodinya yang aduhai. Sampai sekarang saja masih terlihat ganteng, rasanya ingin dikendarai dan dijajal keliling kota. Mesinnya juga tangguh, terbukti masih bisa berjalan dengan baik. Oleh karena itu, setiap tanggal 16 Agustus dibawa keliling untuk napak tilas oleh Gubernur DKI yang sedang menjabat.

Pada tahun 1945, mobil ini adalah yang terbagus di Jakarta. Awalnya dimiliki oleh Kepala Departemen Perhubungan Bangsa Jepang. Mobil ini adalah rampasan dari pihak Jepang kala itu, cerita dari pemandu lokal di Gedung Juang yang saya lupa namanya. Maafkan saya, karena terlalu asyik dengan ceritanya sampai melupakan nara sumber saya. Awalnya si hitam manis ini berada di belakang kantor Departemen Perhubungan, sekarang menjadi kantor Direktorat Perhubungan Laut. 

Tiba-tiba terlihat oleh Sudiro yang adalah Anggota Barisan Banteng dan secara tiba-tiba terbit pikiran yang harus dilaksanakan dengan segera. Bahwa kendaraan roda empat ini cocok dimiliki oleh seorang Presiden RI. Singkat cerita Bapak Sudiro meminta secara halus mobil kepada sang supir. Dibujuk agar si sangar tersebut “dihadiahkan” kepadanya demi kepentingan nusa dan bangsa.  Supir diberikan uang untuk dipakai agar bisa pulang ke Kebumen.

Transaksi berjalan lancar, kunci berpindahtangan.  Sudiro menghubungi supir kenalan agar kendaraan bisa dibawa ke rumah Bung Karno.

Momen saat mobil datang, terbayang suara mesinnya yang menggelegar dalam pikirian saya, karena digas untuk menarik perhatian. Akibatnya Bung Karno keluar dari kediaman untuk mencari asal suara. Aha! Mobil rampasan perang dipersembahkan untuk Presiden RI-1. Sudiro berkata “Ini mobil yang pantas untuk Presiden RI." Kalau saya sedang berada di situ pasti ikut menganggukan kepala tanda seiya sekata.

Karena tidak tahu ekspresinya Bung Karno seperti apa, cerita berlanjut. Kalau ditarik ke belakang mobil ini adalah rampasan perang tentu tidak suratnya, bukan? Mungkinkah Bapak Sudiro meminta BPKB atau semacamnya ketika merampas secara manis kendaraan ini, agak mustahil, bukan?

Singkat cerita Bung Karno datanglah ke tempat semacam SAMSAT, untuk istilahnya sekarang. Untuk meminta dibuatkan STNK untuk kendaraan nomor satu di Indonesia. Kira-kira reaksi dari polisi pada saat itu bagaimanakah? Ternyata mereka menolak, dengan alasan Bung Karno tidak mempunyai surat resminya. Apa!!? Permintaan seorang nomor satu di negara ditolak? Intinya STNK tidak keluar. 

Tidak kehilangan akal, oleh Bung Karno dibuatlah plat nomor untuk mobilnya tersebut. Dengan tangannya sendiri ia menuliskan REP-1. (Peringatan : Adegan ini dilarang dijadikan panutan dan inspirasi kecuali kendaraan siap sedia disita setiap saat)

Mobil Berpelat REP-2

Kendaraan putih kelimis dan manis ini adalah mobil milik Moh. Hatta. Mobil ini sebelumnya digunakan perusahaan yang bernama Djohan Djohor milik seseorang pengusaha yang adalah paman dari Moh Hatta.

Sebelum dijadikan koleksi museum sempat terjadi kejadian menggelikan tapi. Kendaraan roda empat ini sempat diservis di suatu bengkel dan entah mengapa dibiarkan begitu lama oleh Moh. Hatta. Karena diabaikan, pemilik bengkel mungkin serba salah. Berpindah tanganlah si putih ini.

Tahukah kamu, oleh pemilik barunya mobil ini berubah fungsi menjadi mikrolet. Saya tidak tahu detailnya apakah mereka tahu kendaraan ini sebelumnya adalah milik Moh. Hatta. Setelah dijual, entah berapa lama dipakai melayani penumpang. 

Bung Hatta mendadak kangen dan teringat akan mobil yang  pernah dia pergunakan pada saat melaksanakan tugas-tugas kenegaraan sebagai seorang Wakil Presiden. Mendengar kenyataan pahit bahwa kendaraan itu sudah dijual dan digunakan sebagai mikrolet, kesal dan marahlah Moh. Hatta. 

Dengan berbagai cara si kendaraan yang setia mendampinginya sampai-sampai ketika pemerintah RI pindah ke Yogyakarta ikut diboyong dengan kereta api, kembalilah dengan tidak aman sentosa ke tangannya. Akhir cerita bahagia, mobil ini akhirnya dijadikan salah satu koleksi di Museum Juang 45 ini.

Mobil Peristiwa Cikini

Raja Arab Saudi, Saud bin Abdul Aziz memberi oleh-oleh Mobil Chrysler Crown Imperial yang berpelat sekarang berpelat B 9105 untuk Bung Karno setelah ia berkunjung ke negara itu pada 18 Juli hingga 4 Agustus 1955.

Kendaraan roda empat ini adalah saksi sejarah peristiwa percobaan pembunuhan Cikini pada tanggal 30 November 1957. Berdasarkan kenangan Megawati, saat itu Perguruan Cikini sedang mengadakan pesta ulang tahun Yayasan ke-15. Kampus bersolek, karena selain ulang tahun, mereka turut mengundang Bung Karno. Saat itu seluruh putra dan putri Bung Karno bersekolah di sana. Sejarah mencatat, yayasan ini mendirikan Sekolah Rakyat Partikelir Mayumi termasuk di dalamnya adalah berbagai sekolah mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Ketika itu Bung Karno datang sebagai undangan biasa yaitu sebagai orang tua murid bukan sebagai orang nomor satu di Indonesia. Beliau datang dengan iring-iringan rombongan Pasukan Pengaman Presiden (Paspamres) pada era itu. Terlihat ikut menikmati kemeriahan acara. "Saat itu saya bertugas menjaga pameran, kakak dan adik-adik saya, lalu Bung Karno mengunjungi saya sebagai orangtua." cerita Megawati. Bung Karno dikeliling anak-anak yang berlomba-lomba bersalaman dan berfoto serta meminta dipeluk.

Di tengah-tengah kemeriahan acara,  beberapa granat dilemparkan ke arah Bung Karno. Dua pelaku pelempar granat tidak mengenai sasaran granat disebabkan sempat luluh melihat Bung Karno kewalahan dipeluk anak-anak kecil. Sayang granat yang dilemparkan menjadi mengenai tamu undangan, para murid serta Paspamres.

"Peristiwa ini tidak akan pernah terlupakan, karena korbannya dari kawan-kawan saya saja ada 100 orang, baik yang meninggal dunia, luka parah, maupun luka ringan. Beberapa bahkan cacat seumur hidup," kata Presiden ke-5 RI ini. Para pelaku mengaku telah dicuci otak tentang antikomunis. Dimulai dari ceramah-ceramah, mereka diindoktrinasi oleh ulama Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Doktrin ini adalah Presiden Soekarno menghalang-halangi perkembangan Islam. Jika presiden terbunuh, Islam akan cepat berkembang.

Sampai saat ini jika melihat mobil ini masih tampak pecahan kaca di jendela, serta kaca spion yang hilang. Kata sang Bapak pemandu memang sengaja dibiarkan agar mengingat sejarah menyedihkan ini. Hal ini membuat saya teringat akan quote Bung Karno Jas Merah, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.”

Demikian cerita di balik dari 3 kendaraan para pemimpin Bangsa indonesia. Harap ingatlah selalu Jas Merah untuk keutuhan NKRI.

Sumber : 

13 komentar

Sampai sekarang kok ya saya belum sempat ke gedung juang 45. Penasaran mau lihat mobil REP-1, yang masih suka dibawa keliling tiap tanggal 16 Agustus oleh Gubernur DKI yang menjabat

REPLY

Sejarah plat REP nya lucu banget ya. Kok bisa presiden enggak diberi pelayanan plat 😆 kan jadinya plat juga gak sesuai aturan polisi 🤣 akhirnya jadi khas gitu hehe

REPLY

Saya belum pernah nih ke Gedung Juang 45, padahal saya dulu sekolah di SMP Perguruan Cikini. Ya gitu deh, sekolah pulang sekolah pulang. Menarik ya kisahnya, ternyata bukti sejarah masih disimpan di sana. Bahkan mobil peristiwa Cikini juga masih ada...

REPLY

Samsat zaman dulu kredibilitas terjaga ya. Presiden aja ga diizinin buat bikin plat nomer krn ga ada surat resminya.

REPLY

Mobil lama pun bisa tetap bagus mesinnya asal dirawat dengan baik ya Mbak. Tapi saya rasa ini kalau pun jalan sudah gak bisa ngebut.

REPLY

Aku selalu suka sama barang barang antik. Apalagi liat mobil gagah seperti itu. Aduh rasanya pengen bawa pulang. Btw, ternyata mobil2 itu punya cerita.,

REPLY

Haha.. Lucu yo, gimana jadinya klo presiden kena tilang. Mobilnya asyik dibuat pepotoan nih.

REPLY

Hebat yaaaa, mobil aki-aki masih bisa jalan. Saya kira cuma buat pajangan doang. Hehehe.

REPLY

hebat euy, bisa menjadi bagian dari bukti sejarah

REPLY

Mobil antik yang sangat bersejarah bagi peradaban Indonesia. Saya kira hanya pajangan, ternyata mesinnya masih dapat dioperasikan

REPLY

Saya khawatir nanti banyak yg niru2 kak... tetiba muncul plat KAS 1, kerajaan agung sejagat 1... ato ga SE 1.. Sunda Empire 1... hadeuh...

REPLY

Wah, saya malah baru tahu cerita tentang mobil kenegaraan ini. Kasihan ya, yang punya pak Hatta. Cerita yang no 3 miris juga. Benar, kita harus belajar dari sejarah. Agar tidak terperosok di lubang yang sama..

REPLY

Bukan hanya manusia saja yang memiliki kisahnya. Mobil juga, mobil peristiwa Cikini itu tragis sekali ya sista....

REPLY

Lisa Moningka . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates